SURABAYA – HKNews.info : Di tengah hiruk-pikuk pembangunan pusat perbelanjaan modern di jantung Kota Pahlawan, terselip suara getir dari mereka yang menyaksikan langsung runtuhnya ekosistem ekonomi lokal dan hilangnya bangunan bersejarah.
Terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRD Kota Surabaya, pada Senin (11/05/2026), nestapa yang pernah dialami keluarga Dr. Michal Leksodimulyo, MBA, M.Kes., terkait pasang – surutnya toko modern di masa lalu. Politisi PSI yang juga anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya yang lahir di era 1960-an ini membagikan kesaksian emosional mengenai dampak pembangunan supermarket modern terhadap kawasan Jalan Basuki Rahmat dan sekitarnya.
Runtuhnya Ekonomi Lokal dan Hilangnya Memori Masa Kecil
Narasumber menceritakan bagaimana berdirinya pusat perbelanjaan besar pada pertengahan 1980-an menjadi titik awal kebangkrutan massal toko-toko legendaris di kawasan tersebut.
“Saya adalah salah satu korban pembangunan supermarket modern. Tahun 1985-1986, saat bangunan megah itu berdiri, toko sepatu milik keluarga saya dan toko-toko emas di segeretan Jalan Blauran hingga Basuki Rahmat bangkrut semua. Aturan dilarang parkir membuat akses pembeli mati seketika,” ungkapnya dengan nada penuh kenangan.
Ia mengenang Toko Nam sebagai bangunan ikonik yang memiliki jiwa sosial tinggi. Berbeda dengan pengembang besar saat ini, Toko Nam di masa lalu dikenal dermawan dalam membantu yayasan sosial bagi warga miskin di sekitarnya.
Gugatan Terhadap Hilangnya Gedung Asli
Narasi ini menyoroti misteri hilangnya fisik asli Toko Nam. Berdasarkan ingatan warga yang besar di sana, bangunan tersebut masih berdiri kokoh hingga era 1990-an, namun perlahan mulai raib sekitar tahun 2005.
Muncul empat pertanyaan besar yang ditujukan kepada otoritas terkait dan pihak pengembang:
- Apa alasan hukum dan siapa yang memegang perizinan pembongkaran gedung asli?
- Bagaimana status hukum bangunan tersebut saat pembongkaran terjadi?
- Apakah sudah ada Amdal Budaya atau kajian heritage sebelum eskavator meruntuhkan sejarah tersebut?
- Mengapa elemen sejarah asli tidak dipertahankan dan justru diganti dengan replika atau fasad baru yang kini ikut dibongkar?
Mendorong Konsep “Digital Heritage” dan Museum Publik
Meski fisik bangunan telah hancur, narasumber mendesak PT Pakuwon dan Pemerintah Kota Surabaya untuk tidak membiarkan sejarah Toko Nam hilang dari ingatan generasi mendatang. Sejarah Toko Nam sangat krusial karena berkaitan dengan keluarga Sarkis (etnis Armenia) yang juga pemilik Hotel Orange (sekarang Hotel Majapahit), tempat di mana para pejuang merundingkan aksi penyobekan bendera.
Terdapat beberapa usulan konkret untuk menghidupkan kembali roh sejarah di kawasan tersebut:
- Pembangunan Museum Mini atau Pojok Edukasi: Menyediakan ruang di sudut area publik untuk memajang arsip dokumen dan foto Surabaya tempo dulu.
- Digital Heritage & Storytelling: Menggunakan teknologi digital untuk menceritakan sejarah kawasan tersebut kepada anak cucu melalui tour heritage.
- Adaptif Reuse: Mengembangkan konsep pemanfaatan ruang yang tetap menghormati konteks sejarah masa lalu.
“Jangan sampai peristiwa hilangnya cagar budaya di Surabaya, seperti yang terjadi di Jalan Darmo dan Toko Nam, terulang kembali. Generasi anak cucu saya harus tahu bahwa di jalan yang mereka lewati hari ini, pernah ada tempat perjuangan para pahlawan berkumpul,” tutur Dr. Michael, menyudahi historinya.
Hingga saat ini, warga terus mendorong transparansi hasil kajian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) agar setiap langkah pembangunan di Surabaya tetap memiliki pijakan sejarah yang kuat dan jujur. (yok).



