Parade Soerabaja Djoeang 2019 Untuk Indonesia Satu

Wali Kota Risma : “Ayo…contoh sikap Pahlawan Pejuang Kemerdekaan”.

Salam Perjuangan Diserukan Wali Kota Risma Dari Atas Ranpur Komodo

SURABAYA – HKNews.info : Arak – arakan Parade Soerabaja Djoeang 2019 dielu – elukan warga kota dengan semangat Hari Pahlawan 10 Nopember. Sejak jam enam pagi, Sabtu (09/11), mereka memadati jalan raya di sisi kanan dan kiri yang menjadi jalur arak – arakan, dari start di Tugu Pahlawan hingga finish di Taman Bungkul, Surabaya.

Konsentrasi warga mulanya tertuju di sekitaran Tugu Pahlawan. Utamanya di depan Kantor Bappeda Propinsi Jawa Timur (Pintu Masuk Timur Tugu Pahlawan), tempat tenda utama para pejabat kota yang mengikuti upacara, sekaligus tempat pemberangkatan para peserta parade yang telah bersiap diri dengan segala artributnya. Bukan hanya senjata laras panjang yang mereka tenteng di dada, tapi sederet kendaraan tempur milik TNI, dari jenis Anoa dan Komodo telah berbaris rapi di sana.

Para peserta terdiri dari jajaran OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Pemkot Surabaya, para pelajar, pasukan TNI dan Polri, para veteran, para komunitas pecinta sejarah, bahkan perwakilan delegasi Negara Rusia dari dua kota pahlawan, St Petersburg dan Volgograd, ikut ambil bagian. Tak ketinggalan tiga grup drum-band diantaranya dari Politeknik Penerbangan Surabaya, beratraksi dalam arak – arakan memeriahkan suasana.

Teatrikal Kolosal di pembukaan Parade Soerabaja Djoeang 2019

Lewat pukul 07.00 wib, Wali Kota Tri Rismaharini menyampaikan sambutan yang dilanjutkan pembukaan Parade Soerabaja Djoeang 2019. Saat pembukaan parade, Wali Kota didampingi Wawali Wishnu Sakti Buana, dan jajaran Forpimda (Forum Pimpinan Daerah).

“Kita jangan pernah melupakan apa yang telah diperjuangkan oleh para Pahlawan untuk negara kita, untuk kota kita tercinta seperti saat ini,” seru Wali Kota Risma.

Para pejuang kemerdekaan, kata Risma, tidak pernah membeda – bedakan. Karena itu ia mengajak masyarakat menauladani sikap para pendahulu, jangan mudah terprovokasi untuk terpecah belah, karena berbeda suku, agama maupun etnis. . “Jangan mudah dihasut, jangan mudah kena hoax, karena sesungguhnya mereka yang membuat fitnah dan hoax karena mereka yang ingin memecahkan persatuan dan kesatuan kita dan menghancurkan negara tercinta,” tegasnya. 

Khusus kepada arek – arek Suroboyo, Risma berpesan agar mencontoh para pejuang menjadi teladan bagi seluruh bangsa dan negara. Jika ingin Surabaya semakin maju, maka semua harus bersatu padu melawan kemiskinan dan kebodohan. “Arek-arek Suroboyo adalah arek-arek pejuang yang tidak kenal menyerah dan putus asa. Ayo kita tetap berjuang, sekali Merdeka, tetap Merdeka,” pesannya.

Heroikme suasana membahana ketika pecah dentuman mirip meriam, sahut – menyahut mengiringi pembacaan puisi “Surabaya Bhineka” oleh sosiawan Leak Kustiya. Masuklah treatikal kolosal yang diperankan oleh ratusan orang berlarian kesana – kemari menenteng senjata. Mereka inilah komunitas pecinta sejarah dari seluruh Indonesia.

Wakil Delegasi St Petersburg – Rusia turut parade menaiki Ranpur Anoa

Sekitar pukul 08.00 wib iring – iringan Ranpur (kendaraan tempur) merapat ke tenda utama. Masyarakat dan hadirin sontak bersorak – sorai sambil memekikkan kata “Merdeka…” ketika Wali Kota Tri Rismaharini menaiki Ranpur jenis Komodo. Salam perjuang pun diserukan Risma sembari mengepalkan tangan dari atas Ranpur kepada rakyat Suroboyo. Selanjutnya satu persatu Ranpur menghampiri para pejabat Forpimda, lanjut menyusul Ranpur Komodo yang telah membawa Wali Kota Risma melaju ke jalur parade. Tak ketinggalan wakil delegasi St Petersburg juga menaiki kendaraan Ranpur Anoa.

Ketika sampai di depan Gedung Siola, para peserta berhenti sejenak untuk menyaksikan teatrikal kolosal perjuangan yang ditampilkan oleh Komunitas pecinta sejarah dari seluruh Indonesia. Namun, ketika tiba di depan Hotel Majapahit, di atas Ranpur, Wali Kota Risma berteriak lantang membacakan puisi karya KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus itu. “Allahuakbar, Allahuakbar, Surabaya adalah Kota Keberanian, Kota Kebanggaan,” begitulah sedikit isi puisi yang dibacakan Wali Kota Risma.

 Setiba di Perempatan Jalan Bengawan, Wali Kota Risma kemudian menerima senjata dari perwakilan veteran sebagai simbol penyerahkan estafet perjuangan kepada generasi berikutnya. Setelah itu, ia bersama Forpimda Surabaya tiba di garis finish dan menyaksikan penampilan dari berbagai peserta. Penampilan itu, mulai dari pembacaan puisi, drum band, hingga teatrikal perjuangan.

 Pada kesempatan itu, Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana menyampaikan, peringatan Parade Juang 2019 ini sebagai momentum untuk mengingat dan mentauladani semangat para pahlawan. Menurutnya, rangkaian acara ini adalah upaya untuk membangkitkan semangat kesatuan bagi seluruh masyarakat Kota Surabaya khususnya.

 “Jadi tantangannya hari ini adalah masalah intoleransi, radikalisme, masalah terorisme itu yang kita hadapi dengan semangat 10 November 1945,” tuturnya.

 Karena itu, Whisnu menyebut, semangat 10 November 1945, patut ditiru agar masyarakat tidak lagi memandang suku, agama dan etnis. Sebab, dahulu para pejuang bergabung menjadi satu dan sama-sama berjuang untuk membuat bangsa Merdeka. “Itulah semangat yang kita harus satukan,” pungkasnya. (yok)

Related posts