Siapapun Cawalinya Dari PDIP, Wawalinya Dari Nahdliyin Milenia

Ning Lia: “Saya Tidak Sedang Membangun Dinasti.”

SURABAYA – HKNews.info : Pilwali Surabaya, meski jadwalnya masih setahun lagi, yakni bulan September 2020, greget nya kian terasa. Usai tahapan pendaftaran, para kandidat mulai berlomba mendekati konstituen. Tak kecuali Lia Istifhama, sosok idola para milenia Suroboyo, yang sejak awal diposisikan oleh para relawan dan loyalis Khofifah Indarparawansa untuk maju sebagai Bakal Calon Wakil Wali Kota.

Lia yang sdh melakukan fit and propertest dari partai Banteng moncong putih pimpinan Megawati Soekarni Putri sebulan yang lalu di kantor DPD PDIP Jl. Kendangsari, kini kuwalahan memenuhi order dari komunitas relawan. Mulai dari sapa warga di kampung – kampung basis ‘kandang banteng’ sampai basis hijau alias Nahdliyin, atau kegiatan lainnya.

Kendati tak dipungkiri, ada yang nyinyir menyindir Lia suka mendompleng nama besar Gubernur Khofifah Indarparawansa. Hal itu ditanggapinya dengan santai saja.

“Ya biarkan saja mas mereka bilang seperti itu, kan kita niat awalnya bukan untuk membangun dinasti kekuasaan. Karena semua berproses secara alami dan banyak relawan yang mendorong saya maju. Tapi saya harus menanggapi banyaknya komentar miring mengenai majunya saya sebagai Bacawawali Surabaya. Dan perlu saya tegaskan ya, saya maju tidak berdasar skenario. Saya maju juga tidak sedang berusaha membangun dinasti kekuasaan. Semua berjalan secara alami,” tegas Ning Lia kepada wartawan, Rabu (9/10).

Putri politisi senior PPP, KH Maskur Hasjim, ini mengaku tidak bisa menghindar dari keringinan para relawan dan pendukungnya untuk terus maju dalam kontestasi politik Peilwali Surabaya.

“Banyak teman mensosialisasikan diri saya, tanpa ada saya. Saya harus menghormati kegigihan mereka. Makanya saya membantah jika saya maju Pilwali Surabaya karena dinasti, biarkan proses ini bejalan secara alami. Tidak berdasar skenario. Semua berjalan apa adanya, jadi dinasti itu apa sih sebenarnya ? Apa karena orang dekat ? Kalau hanya orang dekat, semua orang bisa mengaku dekat. Jadi saya tidak tahu konsep dinasti yang dimaksudkan orang-orang itu seperti apa. Yang saya tahu, konsep dinasti itu yang ada hubungannya kekeluargaan. Tapi dalam masalah Pilwali Surabaya ini, kembali saya tegaskan, bahwa saya tidak sedang membangun dinasti,” tutur pengurus Fatayat NU Jatim ini.

Seperti Yayak, kader PDIP Sambikerep, saat pertemuan dengan pengurus RT setempat di Pos Satpam Candi Lontar, dikonfirmasi wartawan soal pencalonan Lia Istifhama melalui PDIP, mengatakan, ” Bagi saya siapapun calon walikotanya dari PDIP maka wakilnya harus dari Nadliyin. Dan yang cocok menurut pandangan saya adakah Ning Lia. Karena selain jadi idola para milenia, Ning Lia juga paham betul kebutuhan dasar ibu – ibu rumah tangga. Oleh sebab itu saya beserta warga masyarakat sini siap memenangkan ning lia jika nantinya mendapat rekom dari DPP PDIP !”

Sementara menurut Bram Ketua Pemuda Pancasila Kecamatan Gubeng mengatakan, “Saya setuju dengan pencalonan Ning Lia, dan saya sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kecamatan Gubeng akan membantu sekuat tenaga mengerahkan kader saya untuk mengawal dan memenangkan Ning Lia !” (Gus Dar)

Related posts