Halo SurabayaHeadlineNasionalPendidikan

Surabaya Lebih Besar Dari Tokoh Nasional

SURABAYA – HKNews.info : Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk memasukkan kisah perjuangan Bung Karno ke dalam bahan ajar Sekolah Dasar (SD) mendapat respons positif dari warga. Kendati demikian, Pemkot diingatkan agar tidak terjebak dalam pengkultusan satu tokoh semata, mengingat Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai rahimnya para pahlawan bangsa.

Suara aspirasi ini datang dari salah satu warga asli Krembangan, Surabaya, Achmad Hidayat, yang menekankan bahwa identitas Surabaya jauh lebih besar dari sekadar satu nama besar seorang tokoh nasional.

Surabaya Adalah ‘Dapur Nasionalisme’

Menurutnya, langkah Pemkot Surabaya menjadikan sejarah Bung Karno sebagai materi pembelajaran anak-anak sudah tepat, namun hal tersebut baru sebuah langkah awal. Surabaya secara substantif adalah tempat bertemunya berbagai gagasan kemerdekaan yang diuji langsung oleh sejarah.

“Surabaya ini lebih besar daripada tokoh siapapun. Karena di sini adalah dapur nasionalisme, dapur kebangsaan, dan dapur perjuangan,” ujar Achmad Hidayat.

Ia menambahkan, sejarah harus diajarkan secara utuh agar anak-anak memahami rantai sebab-akibat yang logis. Bung Karno tidak lahir begitu saja menjadi tokoh besar tanpa adanya ekosistem yang membentuknya di Surabaya, salah satunya melalui gemblengan H.O.S. Cokroaminoto.

Menghidupkan Kembali Kisah Wong Cilik dan Pahlawan Lokal

Dalam penyusunan materi sejarah lokal, warga berharap Pemkot juga memunculkan tokoh-tokoh lain yang memiliki kontribusi tidak kalah besar, baik dari kalangan militer, bangsawan, hingga rakyat jelata (wong cilik).

Berikut adalah beberapa narasi sejarah Surabaya yang dinilai penting untuk dibuka kembali kepada generasi muda:

  • Ekosistem Rumah H.O.S. Cokroaminoto: Tempat bertemunya berbagai tokoh bangsa dengan beragam ideologi yang bisa berdiskusi dan hidup berdampingan.
  • Tokoh Lintas Era: Mulai dari Raden Wijaya yang memukul mundur tentara Mongol, Adipati Jayangerono, Pangeran Tokik, hingga tokoh kemerdekaan seperti Kolonel Sungkono, Dr. Sutomo, dan Bung Tomo.
  • Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP): Perjuangan para pelajar yang gugur di Jalan Gunung Sari (kini diabadikan menjadi Jalan Mastrik).
  • Laskar Penggempur Galan: Kelompok pejuang unik saat TKR mundur ke Mojokerto, yang terdiri dari copet, maling, hingga berandal, namun bersatu demi cinta tanah air.
  • Mbok Dar Mortir: Sosok emak-emak legendaris yang mengorbankan dan menghibahkan seluruh perhiasan emasnya demi membelikan sembako bagi para pejuang Pertempuran 10 November tanpa mengharapkan jabatan apa pun setelah merdeka.

Karakter Arek Surabaya: Egaliter dan Kolaboratif

Lebih lanjut, esensi utama yang harus ditanamkan kepada siswa sekolah dasar bukan sekadar menghafal nama tokoh, melainkan menyerap Semangat Arek Surabaya. Karakter asli inilah yang dinilai mampu melahirkan tokoh-tokoh besar nasional pada masanya.

Karakteristik utama tersebut meliputi:

  1. Egaliter: Memandang semua orang setara tanpa sekat sosial.
  2. Kolaboratif: Gotong royong dan terbuka terhadap heterogenitas sejak era kerajaan.
  3. Cinta Damai, tapi Sangat Cinta Kemerdekaan: Mengutamakan kedamaian namun siap bangkit melawan penindasan.

“Semangat Arek Surabaya ini tumbuh tidak hanya di tokoh-tokoh besar, tapi tumbuh di wong cilik pada setiap generasi masa. Itu yang harus diceritakan kepada anak-anak sekolah dasar agar mereka bangga menjadi Arek Surabaya yang hebat,” pungkasnya. (yok)

Related Articles

Back to top button