Komisi C DPRD Surabaya Genjot Pengurangan Titik Genangan, Progres Fisik Penanganan Banjir Capai 90 Persen

SURABAYA — HKNews.info : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya terus mematangkan perencanaan dan realisasi anggaran infrastruktur bersama Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM). Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, mengungkapkan bahwa progres fisik penanganan banjir di Kota Pahlawan saat ini telah mencapai 90 persen.
”Secara fisik, progresnya sudah 90 persen. Meskipun anggaran masih belum terserap penuh karena menunggu pencairan pendanaan, secara fisik progresnya sudah 90 persen dan tahun ini kita sudah bisa mengurangi sekitar 50 titik genangan,” ujar Eri Irawan dalam wawancara khusus.
Eri merinci, sepanjang tahun ini pihaknya telah membangun infrastruktur di 180 lokasi dengan total 51 kilometer saluran. Selain itu, sebanyak 964 saluran—baik berskala lingkungan maupun skala perkotaan—telah dinormalisasi.
Langkah strategis ini turut melibatkan koordinasi bersama BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Brantas dan Jasa Tirta I. Salah satu proyek besar yang dinormalisasi setelah beberapa tahun adalah saluran Kali Jagir, yang pengerjaannya dilakukan mulai dari hulu hingga hilir di Wonorejo.
Pemkot Surabaya juga telah membangun beberapa rumah pompa baru pada tahun ini, di antaranya Rumah Pompa Babat Jerawat, Kalidami, serta penambahan kapasitas di beberapa titik rumah pompa eksisting. Sebanyak 83 rumah pompa juga telah disiagakan untuk mengantisipasi potensi genangan.
Proyeksi Anggaran 2027 dan Fokus Penanganan Jangka Panjang :
Menghadapi pembahasan RAPBD 2027, Eri Irawan menyebutkan bahwa target anggaran dari DSDABM dipatok sebesar Rp2,15 triliun, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang berada di angka Rp2,3 triliun. Penurunan sekitar Rp224 miliar tersebut terjadi lantaran sejumlah pengerjaan fisik besar telah rampung.
Kendati anggaran mengalami penyesuaian, Eri menegaskan hal tersebut tidak akan mengurangi upaya penanggulangan banjir dan perwujudan infrastruktur yang baik. Sebagian anggaran juga telah tercover melalui dana kelurahan, di mana saluran-saluran di perkampungan sebagian besar ditangani lewat dana tersebut.
”Fokus utama kita adalah mengurangi titik genangan dan lama genangan. Jadi, upaya peningkatan kapasitas rumah pompa, penambahan saluran, dan pembangunan bozem tujuannya ke arah itu. Kita berharap dampaknya tidak sesignifikan tahun-tahun sebelumnya,” tegas politisi tersebut.
Terkait pembiayaan alternatif untuk mendukung infrastruktur ini, Eri menambahkan bahwa alokasi dana untuk saluran mencapai sekitar Rp600 miliar pada tahun ini, dan jumlah yang kurang lebih sama juga disiapkan untuk tahun depan. Sisa anggaran lainnya dialokasikan untuk pemeliharaan infrastruktur pendukung seperti JLLB, JLLT, serta pembangunan utilitas kota. (yok)




