Niat Tulus Ning Lia Mengangkat Pasar Rakyat Surabaya, Terungkap di Dalam Disertasinya.  

Sosok Intelektual Yang Merakyat

Lia Istifhama

SURABAYA – HKNews.info : Di tengah kontestasi Pilwali Surabaya yang masih memanas, salah satu figur perempuan millenial Surabaya, Lia Istifhama, telah berhasil menunjukkan ikhtiarnya menyelesaikan tugas akhir Program Doktoral UIN Sunan Ampel Surabaya. Putri almarhum KH Masykur Hasyim tersebut mengungkapkan rasa syukurnya telah meraih gelar Doktor ke 591 dari salah satu kampus terbaik Indonesia.

“Alhamdulillah, ini bukan persoalan tinggi hati dengan sebuah gelar. Melainkan ini semua adalah pencapaian yang tidak mudah. Proses yang harus dilalui sangat panjang dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Disertasi sebagai pamungkas studi, harus bisa memberikan kontribusi teoretis yang nyata dan penting untuk menjadi sebuah penemuan penelitian”, ungkapnya.

Lia Istifhama adalah figur Nahdliyyin yang juga Ketua DPP Perempuan Tani Jatim. Di kalangan relawan yang mengusung sosoknya untuk terjun dalam kancah Pilwali Surabaya 2020, Lia Istifhama akrab disapa Ning Lia, atau Ning Ceria. Hingga kini namanya telah begitu merakyat di Kota Surabaya, salah satunya karena kegiatan sosialnya yang masif untuk segenap warga kota Pahlawan.

Istimewa karena diantara kesibukannya di tengah masyarakat, Ning Lia tetap bisa menyelesaikan program studi Doktoral di UIN Sunan Ampel Surabaya, hingga berhasil meraih gelar Doktor. Maka lengkaplah Ning Lia sebagai sosok intelektual yang merakyat, sekaligus menjadi aset penting Kota Surabaya.

Di dalam penjelasannya ihwal pemilihan Disertasi untuk meraih gelar Strata 3, diketahui begitu nyata Ning Lia memberikan kontribusi demi sebuah penelitian bagi kemaslahatan masyarakat.

“Concern penelitian ini adalah bagaimana kita dapat mengetahui peluang bagi pasar tradisional untuk dapat bertahan. Pentingnya mengetahui tersebut karena pasar tradisional adalah potret usaha rakyat dan merupakan bentuk at-tawaazun (keseimbangan) dalam perdagangan agar tidak selalu dimonopoli kaum kapitalis,” paparnya.

Setting penelitian di pasar Soponyono, Rungkut, karena pasar tersebut berada di bawah yayasan sebuah masjid, yaitu masjid Tholabuddin. Profit dari pasar diperuntukkan bukan hanya operasional pasar, melainkan juga pengembangan masjid, lembaga pendidikan, dan Zakat-sodaqoh. Dari sisi pedagang sendiri, memiliki karakter modal sosial tinggi, yaitu Amaanah (trust, kepercayaan), Ukhuwwah Islamiyyah (networks, jaringan sosial), dan At-ta’aawun (reciprocal, aksi saling menolong). Modal sosial tersebut menjadi strategi jaringan yang sangat penting untuk digunakan sebagai strategi bisnis karena kelemahan modal ekonomi dapat ditunjang dengan modal sosial. Ini pengejawantahan teori keterlekatatan sosio-ekonomi Mark Granovetter”, jelas alumnus Magister UIN Sunan Ampel yang meraih nilai 3,80 pada 2013 lalu.

Adapun yang menjadi dewan penguji dalam ujian terbuka Senin (3/8), adalah Prof. Dr. H. Aswadi, M.Ag; Dr. H. M. Lathoif Ghozali, MA; Prof. Dr. H. Burhan Djamaluddin, MA; Dr. Sirajul Arifin, MEI; Prof. Dr. H. Babun Suharto, MM; Dr. H. Iskandar Ritonga, M.Ag; Dr. Mugiyati, MEI.

Promotor yang mendampingi Ketua III STAI Taruna Surabaya tersebut, adalah Prof. Burhan Djamaluddin dan Dr. Sirajul Arifin. Keduanya menekankan pentingnya menemukan kebaruan data, implikasi teori dan bentuk modal sosial yang secara nyata memang menjadi penguat ketahanan usaha pedagang. Hadir sebagai Ketua penguji, Direktur PPS UINSA menekankan pentingnya merelevansikan modal sosial dengan etika sosial.

Sedangkan penguji utama, yaitu Prof. Babun menekankan pentingnya validitas data dalam penelitian. Pakar ekonomi Islam, yaitu Dr. Iskandar Ritonga dan Dr. Mugiyati lebih menekankan identitas penting dari setting penelitian dan metodologi. Sedangkan sekretaris penguji, Dr. Lathoif, mengambil penekanan dalil naqli dalam unsur modal sosial. Semua penekanan yang menjadi pertanyaan selama berlangsungnya ujian terbuka, berhasil dijawab oleh pronovendus Lia Istifhama.

“Meraih program Doktoral  adalah bukti keseriusan Mbak Lia meluangkan waktu menuntaskan kewajiban menyelesaikan studi ditengah aktivitasnya”, tutur Dr Sirajul Arifin dalam sambutan penutupnya setelah pengukuhan Gelar Doktoral yang langsung disampaikan oleh Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr.  H. Aswadi, M.Ag. (Red/yok).

Related posts