Wafatnya KH Maimun Zubair Di Tanah Suci, Doa Khusuk Lia Istifhama Dari Tanah Air

SURABAYA – HKNews.info : Khabar duka dari tanah suci, Mekkah, Arab Saudi, ihwal wafatnya KH Maimoen Zubair, saat menunaikan ibadah haji, begitu menyentak di Tanah Air. Segenap pejabat, ulama, maupun umat Islam di Indonesia sempat larut dalam nestapa mengikhlaskan kepergian Ketua Majelis Syariah PPP yang di tanah air akrab disapa Mbah Moen, ini menghadap ke haribaan Illahi.

Lintasan berita duka, saling khabar dan info melalui grup – grup WhatsApp kian ramai menyampaikan wafatnya pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah. Sempat dirawat di Rumah Sakit An Noor Mekkah, pada Selasa (6/8) pukul 04.17 waktu setempat, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit tersebut.

Tak kurang berdukanya, sosok Pengurus Fatayat NU Jatim yang tak lain adalah Lia Istifhama, S.Sos, SHI, MEI, yang akrab disapa Ning Lia, saat menerima kenyataan bahwa sang kyai kharismatik ini tutup usia.

“Innalillahi wainnailahi rajiun, bangsa ini telah kehilangan satu lagi putra terbaiknya” kata nya kepada wartawan.

“Beliau adalah Kiai Khos, Tokoh bangsa yang selama ini menjadi jujugan siapapun untuk meminta nasehat dan do’a,” tambah putri KH. Masjkur Hasyim, ini.

Betapa tidak mendalam duka seorang Lia Isthifhama, karena sempat terukir kenangan indah dan suci, tatkala sang Kyai berkenan menikahkan dirinya dengan lelaki pilihannya, M. Arief Fauzi, di kediamannya di kawasan Wonocolo, sepuluh tahun yang lalu, atau tepatnya hari Jumat, 6 Februari 2009.

“Saya punya kenangan yang tak bisa dilupakan dengan Mbah Moen. Karena beliau lah yang menikahkan saya 10 tahun yang lalu,” ucap Lia, Selasa (6/8). Masih terngiang pula nasehat Mbah Moen kepada ia dan suaminya, bahwa keduanya ibarat “tumbu ketemu tutup” yang artinya saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing – masing. Maka perhelatan pernikahan Lia – Arief Fauzi yang khidmat sederhana di rumah tinggal, menjadi sangat istimewa dengan kehadiran Mbah Moen sekaligus petuah dan nasehatnya.

“Alhamdulillah, Mbah Moen mau hadir dan menikahkan saya di rumah, saat itu.  Meskipun beliau kiai besar tapi sosoknya sangat sederhana dan ikhlas,” kenang keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indarparawansa, ini.

Pembina Ponpes Raudlatul Banin wal Banat Surabaya ini mengakui keakraban dirinya dengan Mbah Moen tak lepas dari sosok abahnya KH. Masjkur Hasyim. Pasalnya Kiai Masjkur dan Mbah Moen adalah karib dan sama-sama berkhidmat di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). (yok)

Related posts