Halo Surabaya

Demo Protes Relokasi RPH Pegirian, Pendemo Bawa Sapi ke depan Kantor DPRD Surabaya

SURABAYA – HKNews.info : Protes relokasi RPH (Rumah Potong Hewan) Pegirian ke lokasi baru di kawasan Osowilangun, Surabaya, masih berlanjut. Demo kali ini bahkan lebih besar, massa aksi yang tergabung dalam Paguyuban Jagal dan Pedagang Daging Sapi RPH bahkan membawa tiga ekor sapi ke depan gedung dewan, Senin (12/1/2026).

Massa berdatangan sejak pagi dengan mengusung spanduk berisi tuntutan, hingga suasana semakin memanas. Apalagi ketika massa demo memaksa menggiring sapi – sapi itu masuk ke halaman kantor dewan. Di sisi lain, adanya sapi – sapi yang dibawa para pendemo itu, menarik perhatian warga hingga memacetkan arus lalu lintas di depan gedung dewan. Namun semua itu tetap berada dalam pengawasan aparat keamanan.

Dalam orasinya, perwakilan massa menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap pimpinan dan anggota Komisi B DPRD Surabaya. Mereka menilai DPRD gagal menjalankan peran sebagai wakil rakyat yang seharusnya membela kepentingan para jagal dan pedagang daging yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di RPH Pegirian.

“Kami datang ke sini karena kecewa. Seharusnya DPRD membantu dan memfasilitasi rakyat Surabaya, bukan justru terkesan bersama-sama mengusir kami dari RPH Pegirian,” teriak seorang orator dari atas mobil komando. Ia juga mengingatkan bahwa anggota dewan dipilih oleh suara rakyat dan wajib memperjuangkan aspirasi mereka.

Massa bahkan mengancam akan kembali turun dengan jumlah yang lebih besar apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi. Mereka menegaskan penolakan relokasi bukan sekadar soal tempat, melainkan menyangkut keberlangsungan mata pencaharian yang telah diwariskan secara turun-temurun. “Bahkan sebelum kalian lahir, kami sudah ada di RPH Pegirian,” ujar orator tersebut dengan nada tinggi.

Menanggapi aksi tersebut, Ketua Komisi B DPRD Surabaya, M. Faridz Afif, menjelaskan bahwa relokasi RPH merupakan kebijakan lama yang sudah direncanakan jauh sebelumnya. Menurutnya, penolakan seharusnya disampaikan sejak awal pembangunan, bukan ketika proses sudah berjalan.

Faridz mengklaim Komisi B telah berulang kali memfasilitasi dan memediasi pertemuan antara mitra jagal dengan Pemerintah Kota Surabaya. Ia menyebutkan, dalam rapat-rapat tersebut, DPRD bersama pemkot telah menawarkan sejumlah solusi atas keluhan para jagal, termasuk penyediaan kendaraan pengangkut daging agar distribusi dari RPH Oso Wilangun ke pasar tetap tepat waktu.

“Ketika kami tawarkan solusi dan Pemkot sudah menyetujui, justru teman-teman mitra jagal menolak dan menyatakan harga mati tidak mau pindah,” kata Faridz. Ia menambahkan, pada rapat ketiga, perwakilan mitra jagal bahkan memilih keluar sebelum pembahasan selesai, meski sejumlah instansi terkait telah diundang.

Faridz menegaskan relokasi tetap harus dilakukan karena pembangunan sudah berjalan. Namun, ia memastikan DPRD dan Pemkot akan terus memfasilitasi dan menutup berbagai keluhan yang muncul agar proses relokasi tidak merugikan para jagal dan pedagang daging. (yok)

Related Articles

Back to top button