Halo Surabaya

Program Satu Keluarga Satu Sarjana Surabaya Perluas Akses Pendidikan Tinggi Saat Biaya Kuliah Membengkak 

SURABAYA – HKNews.info : Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghadirkan Program Satu Keluarga Satu Sarjana sebagai upaya memperluas kesempatan anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi di tengah meningkatnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di sejumlah perguruan tinggi.

Program tersebut dirancang agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi generasi muda untuk mengenyam pendidikan tinggi. Di sisi lain, kebijakan ini juga menjadi strategi jangka panjang Pemkot Surabaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.

Kolumnis sekaligus Wakil Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, M. Isa Ansori, menilai persoalan mahalnya UKT tidak lagi sekadar menjadi isu biaya pendidikan, tetapi telah berkembang menjadi tantangan dalam mewujudkan keadilan sosial.

“Ketika seorang anak batal kuliah karena faktor ekonomi, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar, tetapi juga harapan sebuah keluarga, potensi daerah, dan aset bangsa. Pendidikan tinggi semestinya menjadi jalan mobilitas sosial, bukan justru menghadirkan hambatan baru,” kata Isa Ansori, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, di tengah kondisi tersebut, Program Satu Keluarga Satu Sarjana menjadi bentuk keberpihakan Pemkot Surabaya terhadap pembangunan manusia. Program itu dinilai tidak hanya membantu pembiayaan pendidikan, tetapi juga membangun optimisme bahwa setiap keluarga memiliki kesempatan melahirkan generasi berpendidikan tinggi.

“Surabaya menunjukkan bahwa investasi terbaik bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun infrastruktur harapan. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan melahirkan generasi produktif, inovatif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Isa menilai pendekatan yang dilakukan Pemkot Surabaya layak menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Di saat banyak calon mahasiswa menghadapi kendala biaya kuliah, pemerintah daerah dinilai dapat mengambil peran aktif melalui kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Ia juga mendorong agar upaya tersebut diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah pusat diharapkan terus mengevaluasi sistem UKT agar semakin mencerminkan kemampuan ekonomi keluarga.

“Sementara perguruan tinggi didorong memperluas skema beasiswa, memberikan mekanisme peninjauan UKT yang lebih adaptif, serta menyediakan pilihan pembayaran yang lebih fleksibel,” imbuhnya.

Selain itu, dunia usaha, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, dan para alumni perguruan tinggi dinilai memiliki ruang besar untuk memperkuat ekosistem pembiayaan pendidikan melalui program tanggung jawab sosial maupun gerakan gotong royong.

Sebagai bagian dari organisasi cendekiawan, ICMI Jawa Timur juga menyatakan kesiapan mengambil peran dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui kolaborasi lintas sektor.

“Program Satu Keluarga Satu Sarjana tidak boleh berhenti sebagai program pemerintah semata. Ini perlu berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga filantropi, para alumni, dan masyarakat sehingga tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan kuliah hanya karena persoalan ekonomi,” tuturnya.

Ia menambahkan, ICMI Jawa Timur mendorong lahirnya Gerakan Seribu Sarjana Jawa Timur yang tidak hanya berfokus pada penyediaan beasiswa, tetapi juga pendampingan akademik, pengembangan kompetensi, magang, kewirausahaan, hingga penyaluran kerja bagi mahasiswa. Gagasan pembentukan dana abadi pendidikan melalui kolaborasi wakaf produktif, zakat, infak, sedekah, CSR perusahaan, dan kontribusi alumni juga dinilai dapat menjadi solusi pembiayaan pendidikan yang berkelanjutan.

“Surabaya telah memulai langkah melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana. Kini saatnya seluruh elemen bangsa memperkuat langkah tersebut agar semakin banyak anak Indonesia yang dapat menyelesaikan pendidikan tinggi. Setiap sarjana yang lahir merupakan investasi bagi kemajuan daerah dan masa depan bangsa,” pungkasnya. (yok)

Related Articles

Back to top button