Harapan Baru Bagi Anak di Eks Lokalisasi Dolly

Anak – anak Eks Lokalisasi Dolly Sedang Ceria Bermain Ayunan

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, Soekarmiati, Kepala Kelompok Belajar Nusantara Kita, tak lagi merasa was-was. Suara musik disko yang biasanya membuat bising kelompok belajar itubeberapa tahun lalu, kini telah berubah dengan lantunan sholawat indah. Pemandangan semakin indah ketika melihat anak-anak kecil yang berjalan kaki, dan ada pula yang bersepeda menuju masjid atau musholla untuk mengikuti Taman Pendidikan Al Quran (TPQ).

Namun, mata dan telinga Ninuk-sapaan Soekarmiati, yang dari kecil tinggal di eks lokalisasi Dolly, masih belum lupa cerita kelam lingkungannya. Dulu, pada jam-jam itu, musik disko bervolume tinggi sudah mulai menyala dan wisma-wisma juga sudah bersiap membuka “praktik”.

Kala itu, anak-anak di bawah umur terbiasa dengan kondisi tersebut. Tak heran jika banyak anak-anak akhirnya ikut terjerumus ke dunia kelam.Mereka seakan tak berkutik, kondisi memaksanya menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan mata bathinnya. Masa bermainnya pun seakan “dirampas” oleh lingkungan sekitar.

Bertanding Futsal, Anak – Anak Eks Lokalisasi Dolly Penuh Semangat Dan Harapan

Cerita kelam itu kini tinggal kisah. Terutama setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini merevitalisasi kawasan prostitusi yang konon terbesar se-Asia Tenggara itu. Kini, eks lokalisasi Dolly sudah bertransformasi menjadi kawasan ramah anak dan kawasan pengembangan UMKM.

“Alhamdulillah saat ini sudah nyaman untuk anak-anak, nyaman untuk belajar dan anak-anak saya tidak lagi terganggu dengan adanya musikdisko bervolume tinggi,” kata Ninuk saat ditemui di sela-sela mengajar di Kelompok Belajar Nusantara Kita.

Sejak alih fungsi eks lokalisasi Dolly, perhatian Pemkot Surabaya terhadap kawasan ini semakin besar. Pemkot menyediakan bangunan khusus untuk Kelompok Belajar Nusantara Kita, sebuah kelompok belajar gratis yang kini sudah mendidik 64 siswa, 33 di antaranya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)berusiamulai 1-20 tahun. Sedangkan siswa lainnya yang mengikuti PAUD berusia 1-5 tahun.

Di samping itu, anak-anak itu juga dibangunkan lapangan futsal dan taman bermain, sehingga anak-anak yang dulunya terkekang dengan situasi dan kondisi lingkungan, bisa terbebas. Mereka pun bermain ceria di lapangan futsal itu. Nyaris setiap hari lapangan itu tidak pernah sepi.

Ketua RT 05 RW 03 Putat Jaya Nirwono mengatakan lapangan futsal dan taman bermain itu menjadi tempat favorit anak-anak untuk menghabiskan waktunya seusai pulang sekolah. Biasanya, setelah pulang sekolah anak-anak di eks lokalisasi Dolly itu langsung bermain futsal. “Dulu kalau anak-anak mau bermain harus jalan jalan ke kampung sebelah, tempatnya juga jauh. Kalau sekarang sudah dekat dan lapangannya juga bagus, sehingga mereka sangat senang,” kata dia.

Jika sudah terlalu banyak yang bermain futsal,sebagian anak-anak bergeser ke taman bermain. Lokasi tersebut kerap diserbu anak-anak karena fasilitasnya banyak. “Jadi, mereka bisa bermain dan berkumpul dengan teman sebayanya,” imbuhnya.

Sedangkan anak-anak perempuan yang tidak suka main futsal dan sudah bosan main di taman bermain, mereka biasanya bermain di sepanjang Gang Putat Jaya RW 06. Di gang ini, mereka bisa belajar atau sekadar membaca buku di perpustakaan yang ada di sana. “Akhirnya, anak-anak sekarang sudah bisa bermain bebas dan bisa menikmati masa kecilnya,” katanya.

Kini, kondisi di eks lokalisasi Dolly semakin pantas disebut kawasan yang ramah anak, seiring dengan Kota Surabaya yang selalu rutin dinobatkan sebagai kota layak anak. “Alhamdulillah kawasan eks lokalisasi Dolly ini sudah seperti daerah lain di Surabaya yang ramah anak,” kata Camat Sawahan M. Yunus.

Yunus memastikan bahwa masalah pendidikan dan kesejahteraan anak memang selalu menjadi prioritas selama ini. Data terakhir, sebanyak 889 anak di bawah usia 17 tahun tinggal di eks lokalisasi Dolly ini. “Mereka semuanya berada dalam pengawasan kami,” tegasnya.

Demi menjamin kualitas hidup anak-anak itu, pria yang lima tahun menjabat Camat Sawahan ini mengatakan, pihaknya selalu menjaga komunikasi yang baik dengan masyarakatsupaya ikut berperan aktif dalam menjaga situasi di sekitarnya. Bahkan, jajaran TNI dan Polri juga ikut aktif memantau berbagai situasi yang terjadi, sehingga benih-benih tindakan pelanggaran hukum yang berpotensi muncul di kawasan itu bisa dicegah lebih awal.

“Kami menjaga jangan sampai muncul benih macam-macam. Jangan sampai ada anak putus sekolah, kemudian bagaimana anak yatim piatu dicarikan jalan keluar, sehingga terjamin pendidikannya,” pungkasnya.(adv)

Related posts