PLN Membangun Infrastruktur Ketenagalistrikan Jawa – Bali.

PRESS GATHERING 2018 – HKNews.info : PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur terus “bergerak maju” dengan upaya melistriki nusantara, khususnya meningkatkan infrasruktur kelistrikan di wilayah Jawa Timur hingga mencapai Rasio Elektrifikasi 100 %, untuk mendukung kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

Pada Peta Sistem Tenaga Listrik di Jawa Timur – PLN Disjatim, dapat dilihat latar belakang pembangunan infrastruktur kelistrikan itu karena beberapa faktor, antara lain : Beban Puncak tertinggi 2017 sebesar 5.572 MW, Daya mampu pembangkit (150 kV dan 500 kV) sebesar 9.475 MW, Proyeksi rata–rata pertumbuhan beban puncak selama 10 tahun sekitar 4,90%, Proyeksi rata–rata pertumbuhan ekonomi selama 10 tahun sekitar 5,91%, Proyeksi rata–rata pertumbuhan penjualan energi selama 10 tahun sekitar 5,29%, Mengakomodir pertumbuhan pelanggan (insdustri dan rumah tangga) di area Arjasa dan Jember Selatan (Puger), Tegangan drop karena jarak dari Gardu Induk ke pelanggan terlalu jauh, dan Konsumen teganan tinggi.

General Affair PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Dwi Surya Abdullah, dalam acara Press Gathering 2018 di Jember, pada 22 – 23 September 2018, kepada wartawan mengungkapkan apa yang dilakukan PLN dalam rangka menerangi negeri khususnya di Pulau Jawa dan Bali seiring dengan program 35.000 MW maupun program untuk melistriki desa – desa yang belum teraliri listrik.

Diungkapkannya, sistem penyaluran energi listrik PLN dibangkitkan oleh pembangkit – pembangkit yang ada di Jawa Timur, seperti dibangun di seputar Malangk, Probolinggo, Banyuwangi dan Situbondo, tidak hanya di Paiton.

Paiton terdiri dari 8 pembangkit, 3 pembangkit listrik itu milik PLN, yaitu unit 1, 2 dan 9. Unit 1,2 kapasitasnya 2 kali 400, unit 9 adalah 800 mega, jadi total yang dimiliki PLN adalah 1600 mega watt dari 4800 mega watt, jadi sisanya itu adalah dimiliki oleh Independent Power Plan (IPP) , ada 2 perusahaan IPP.

Khusus paiton di jalur 500 KV energi yang dihasilkan paiton sebesar 4800 MW, 1500 MW digunakan untuk paiton dan sekitarnya sebesar 2 kali 500 MW dibawa ke wilayah Situbondo, Banyuwangi sampai ke Bali, termasuk Jember, 500 MW dibawa ke Probolinggo dan Lumajang, sisanya 3300 MW masuk ke sistem 500 KV diangkut dengan pembangkit yang ada di Grati (Pasuruan), ada yang di Gresik, Tanjung Awar – Awar, termasuk yang sistem 450 KV di Pacitan. Jadi yang 3300 mw tadi bergabung di Grati, Gresik, Tanjung Awar – Awar, Pacitan dan Jawa Tengah maupun Jawa Barat, Banten dan DKI, termasuk sistem interkoneksi 500 KV Jawa – Bali (Bali hanya 150 KV).

 

Kenapa sistem 500 KV menggunakan Sutet ?

“Secara teori kemampuan menghantarkan arus listrik untuk mengalir ke dalam kawat itu tergantung dari diameter kawat. Kalau diameter kawatnya sama dengan yang digunakan pada sistem 150 KV maka energi yang disalurkan itu menjadi terbatas, tetapi kalau tegangannya yang dinaikkan maka pada diameter yang sama maka arus yang mengalir lebih besar, energi yang dialirkan akan lebih besar pada arus yang sama. Jadi tegangan perlu dinaikkan sampai 500 KV. Itulah yang menjadi perhatian mengapa PLN menggunakan dua sistem, interkoneksi 500 KV dan 150 KV. Semua pembangkit di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten dan DKI itu tergantung dalam sistem 500 KV,” papar Dwi Surya.

Bagaimana itu bisa disalurkan untuk dijual oleh kami Distribusi Jawa Timur ? Maka yang dari 500 KV itu diturunkan ke 150 KV untuk mengisi atau mengalirkan, seperti pipa atau saluran – saluran itu dibuka agar supaya terbagi salurannya, untuk membuka itu maka dipasanglah gardu induk listrik 150 KV.

Jadi dari 500 KV diturunkan ke 150 KV melalui beberapa IBT, seperti IBT paiton, IBT Grati, IBT Kediri, termasuk yang melistriki Surabaya itu ada IBT Krian. Dari 150 KV – 150 KV itu lalu diturunkan lagi ke sistem 20 KV, nah yang sistem 20 KV itulah yang dijual ke masing – masing pelanggan.

Sistem 70 KV masih digunakan di Jawa Timur karena pembangkit – pembangkit peninggalan belanda, seperti PLTA yang ada di bendungan sutami, dan plta – plta lainnya dari blitar sampai malang, itu masih dioperasikan. Sistem di situ masih menggunakan sistem 70 KV.

 

Jawa – Bali Crossing

Terkait Jawa – Bali crossing, jadi secara RUPTL (Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik) untuk 5 – 10 tahun ke depan, untuk Jawa – Bali crossing dalam kesiapannya PLN sudah melakukan survei lokasi untuk tapak tower dari Paiton menuju ke landing point di Banyuwangi, apakah di Ketapangnya atau di tempat lain di banyuwangi. Itu ada beberapa alternatif, ada 2 – 3 alternatif , tapi alternatif yang pertama untuk 150 KV.

Yang pertama PLN telah melakukan survei untuk tapak – tapak tower, kemudian yang kedua sudah sebagian besar lokasi tapak – tapak tower yang akan dilalui 500 KV dari paiton menuju landing point yang ada di banyuwangi itu sudah dilakukan pembebasan lahannya. Begitu juga yang dari Bali menuju ke arah IBT Bali nantinya.

Saat ini PLN masih mengupayakan untuk mengurus perijinan dengan pihak Propinsi Bali. “Direktur Regional Jawa – Bali – Nusra, sudah bertemu dengan Gubernur Bali, sehingga menjadi harapan bersama kita bahwa dalam waktu dekat dilakukan pembicaraan untuk PLN mendapatkan ijin mendirikan tower, yang nantinya transmisinya tidak dilewatkan bawah laut lagi, tapi transmisinya menggunakan tower pool yang mungkin tingginya sekitar 200 meter dari Ketapang sampai ke landing point yang ada di Gilimanuk atau di daratan Bali,” ungkapnya.

Untuk lokasinya memang ada beberapa alternatif, alternatif pertama di posisi landing point yang ada di 150 KV karena kita masih punya lahan di situ sehingga PLN bisa melakukan pembebasan.

Tetapi ada beberapa faktor yang menjadikan PLN menjadi cukup serius memikirkannya, adalah tingkat kerapatan petir. Karena ternyata di Selat Bali itu tingkat kerapatan petirnya cukup tinggi. Jadi bagaimana PLN bisa melakukan antisipasi dengan menggunakan sistem pengaman petir seperti apa supaya jaringan saluran yang dibangun itu tidak bermasalah dengan petir. (yok)

Related posts