Peristiwa Padamnya Listrik 5 September 2018, Dan Imbauan PLN Disjatim

PRESS GATHERING 2018 – HKNews.info : Di Jawa Timur sekarang ada 104 Gardu Induk. Gardu induk – gardu induk yang dipikul oleh IBT Kediri ada 23 gardu induk, di Paiton 10 gardu induk, dan yang di Grati itu sisanya, yakni 71 gardu induk.

Kalau ditotal kebutuhan listrik dengan pembangkit yang ada di Jawa Timur, itu  melebihi dari pada kebutuhan yang ada, sisanya ditransmisikan ke Bali, ke Jawa Tengah maupun ke Jawa Barat.

Ketika terjadi terjadi aliran yang buntu seperti peristiwa tanggal 5 September 2018, itu aliran yang dari 500 KV ini dari Paiton menuju ke grati ini terganggu salurannya di sekitar Grati. Penghantar di sistem 500 KV sebesar 3300 MW yang seharusnya mengalir ke Grati maupun ke Kediri menjadi tersumbat dan tidak bisa mengalir.

Pada saat itu beban di Jawa  kehilangan beban sekitar 3300 MW dari Paiton, kemudian dari Pacitan kehilangan beban sekitar 280 MW, total sekitar 3580 MW  yang hilang. Dampaknya, karena di dalam sistem pengoperasian tenaga listrik itu menganut unsur keseimbangan antara suplay dan demand , ketika suplay nya turun 3580 mega watt maka demand nya harus dipaksa dibuang, dipaksa harus hilang, kalau tidak maka sistem yang 500 KV itu bisa meruntuhkan seluruh sistem 150 KV yang ada di pulau Jawa. Itulah yang terjadi pada 5 september 2018 kemarin pada jam sekitar 11.27 wib.

Bagaimana PLN mengantisipasinya ?

General Affair PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Dwi Surya Abdullah, menerangkan, “Kalau kita lihat adanya gangguan menuju ke grati, sebenarnya energi itu bisa dikirim melalui kediri, namun karena aliran itu yang terjadi dalam mili detik, begitu terjadi gangguan di situ maka pembangkit itu sudah keburu lepas. Dan lepasnya bersamaan, sehingga tidak bisa langsung bangkit, jadi 8 unit itu lepas bersamaan. Pada saat itu warga masyarakat yang lewat di sekitar paiton mendengar seolah – olah ada ledakan, itulah karena energi yang seharusnya digunakan atau disalurkan itu harus dibuang ke udara, sampai tekanannya sama dengan tekanan atmosfir.”

Pihak PLN sudah secara kontinyu menjaga dan mengawasi perilaku masyarakat yang bisa mengakibatkan terganggunya jaringan listrik, hingga terjadi peristiwa padamnya listrik pada tanggal 5 September 2018, tersebut.

Pengawasan itu, kata Dwi Surya, dilakukan oleh tim khusus hingga ke desa – desa dan sekolah – sekolah di sekitar jalur jaringan transmisi listrik. “Seperti di Situbondo – Bondowoso di sana kita membentuk tim urak – urak, tugasnya mengimbau kepada masyarakat,” katanya.

Biasanya hari Sabtu dan Minggu banyak warga yang main layang – layang , kita memberi informasi ke sana melalui tim khusus yang langsung terjun ke lapangan didampingi oleh pihak kepolisian dan koramil setempat, untuk memberikan imbauan.

“Bahkan kita juga melakukan tindakan, jika ada pemain layang – layang yang menambahkan kawat terjulur di ekor layang – layangnya (biasanya dipakai untuk taruhan) itu mereka langsung kita tegur, layang – layangnya kita sita. Setelah itu mereka kita berikan edukasi,” ucapnya, seraya menambahkan, sekarang di Situbondo ada perda tentang larangan bermain layang – layang, sampai ada fatwa haram bermain layang – layang seperti itu.

Bisa juga disebabkan oleh balon udara yang nyangkut di kawat transmisi sutet, dimana balon udara tersebut diberi tali pengikat sehingga nyangkut di kawat transmisi, itu bisa menyebabkan terganggunya aliran listrik di kawat transmisi. Juga benangnya yangkut di kawat transmisi.

“Kami dari PLN tidak henti – hentinya menghimbau masyarakat untuk tidak main layang – layang, menerbangkan balon, tidak membakar semak, pohon, atau alang – alang maupun lainnya yang ada di bawah jalur transmisi listrik. Sosialisasi tidak henti hentinya dilakukan baik melalui media on-line, cetak, medsos, untuk mengimbau kepada masyarakat,” kata Dwi Surya. (yok)

 

Related posts