Teroris Bom Gereja Di Surabaya dan Rusunawa Di Sidoarjo, Jaringan ISIS Sentral Syria

SURABAYA – HKNews.info : Terungkap dalam tempo relatif cepat olah Polri, bahwa satu keluarga atas nama Dita Supriyanto beserta istri dan keempat anaknya, dua laki – laki dan dua perempuan, terlibat dalam teror bom di tiga titik lokasi di Surabaya, masing – masing Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya No.1 Surabaya, Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, Surabaya, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, Surabaya.

Dalam jumpa pers di Mapolda Jatim, dengan didampingi Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Irjen Machfud Arifin, dan petinggi Polri lainnya, Senin, 14 Mei 2018, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian mengungkapkan, kelompok JAD (Jamaah Ansarut Daulah) sel Surabaya, besar kemungkinan motifnya terkait dengan serangan ini karena adanya instruksi dari ISIS sentral di Syria, yang karena mereka terdesak lalu memerintahkan sel – sel lainnya di seluruh dunia untuk bergerak, termasuk sel Surabaya. “Hari minggu kemarin juga terjadi serangan di Paris – Perancis, yang pelakunya juga ditembak mati,” ungkap Kapolri.

Di tingkat lokal sendiri (dalam negeri / di Indonesia), lanjut Kapolri, diduga ini adalah pembalasan dari kelompok JAD karena pimpinannya, Aman Abdurrahman, yang bulan Agustus lalu yang dia dibebaskan dalam kasus pendanaan serta mengorganisasi latihan para militer ilegal bersenjata di aceh, kemudian yang bersangkutan divonis dan harusnya keluar bulan agustus tahun lalu, namun ditangkap kembali karena yang bersangkutan diduga keras terkait dengan perencanaan dan dan pendanaan kasus bom Thamrin – Jakarta, di tahun 2016.

Kemudian setelah itu, papar Kapolri, kepemimpinan dialihkan kepada tokoh pimpinan JAD Jawa Timur yang bernama Zaenal Ansori, yang bersangkutan selang lima atau enam bulan yang lalu ditangkap lagi oleh Mabes Polri dalam kaitan pendanaan untuk memasukkan senjata api dari Philipina Selatan ke Indonesia. Maka dilakukan proses hukum terhadap yang bersangkutan, dan itu membuat kelompok – kelompok jaringan JAD di Jawa Timur termasuk yang ada di Surabaya ini memanas dan ingin melakukan pembalasan.

“Sehingga kemarin saya sebutkan kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta, itu tidak sekedar mengenai masalah (mengantar) makanan yang tidak boleh masuk dari keluarganya kepada para tahanan, tapi juga adanya dinamika internasional tadi serta upaya untuk melakukan kekerasan, pembalasan atas ditangkapnya pimpinan – pimpinan mereka. Di Jawa Timur, yang paling bereaksi adalah kelompok JAD Surabaya yang dipimpin oleh Dita, ini. Dita melakukan bom bunuh diri dengan mengendarai mobil avanza dan meledakkannya di gereja di Jalan Arjuno tersebut,” ungkap Jenderal Tito.

Seperti telah terungkap, Dita meledakkan bom di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, Minggu (13/5), dengan mengemudikan mobil Toyota Avanza dan menabrakkannya di pagar gereja sampai meledak. Sebelumnya, Dita mengantar sang istri, Puji Kuswati (43), serta dua anak perempuannya, FS (12) dan FR (9), ke GKI di Jl Diponegoro, untuk meledakkan bom yang diikat di pinggang masing – masing. Di sisi lain, dua anak laki-lakinya, YF (18) dan FA (16), dengan berbonceng motor menerobos pintu pagar Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya No.1 dan meledakkan bom di sana. Ketiganya meledak hanya berselang beberapa menit saja.

 

Teror JAD Tidak Terkait Masalah Keagamaan.

Kapolri menegaskan, serangan kelompok – kelompok ini tidak terkait dengan masalah – masalah keagamaan, namun pemikiran – pemikiran yang menggunakan ajaran – ajaran. “Jadi (sekali lagi) tidak terkait dengan agama apa pun,” tegasnya.

Malamnya terjadi ledakan lagi di lantai 5 Rusunawa, kawasan Taman – Sidoarjo. Hasil penyelidikan di TKP, ledakan itu dimungkinkan karena kecelakaan oleh pelaku sendiri, Anton Febrianto, yang diketahui adalah teman dekat Dita sang pimpinan JAD Surabaya.

Mereka, kata Kapolri, aktif berhubungan. Keduanya pernah berkunjung ke Lapas Napi Terorisme di Tulungagung, di tahun 2016. Meledaknya bom di rusunawa itu mengakibatkan satu keluarga meninggal dunia, yaitu Anton sendiri, istrinya, dan satu orang anaknya. Tiga anaknya yang lain luka – luka dan kini dirawat di RS Bhayangkara, Surabaya. Hasil olah TKP petugas menemukan sejumlah bom pipa yang mirip dengan bom – bom pipa di sejumlah TKP ledakan di gereja – gereja di Surabaya tersebut, yang di situ juga ditemukan ada bom pipa yang tidak meledak.

Perintah Kapolri, dilakukan pengejaran terhadap sisa kelompoknya dan sampai subuh tadi (senin, 14 Mei 2018) tertangkap 5 orang. Satu diantaranya bernama Budi Satriyo, adalah tokoh penting nomor dua setelah Dita, karena melakukan perlawanan sehingga tertembak mati. Dari ke lima orang ini ditemukan bom yang sama.

 

Bom Di Pintu Gerbang Mapolrestabes Surabaya

Pagi hari, Senin 14 Mei 2018, pukul 08.50 Wib, terjadi lagi bom bunuh diri di pintu gerbang depan Mapolrestabes Surabaya, menggunakan sepeda motor dengan membawa bahan peledak. Dua sepeda motor berboncengan lima orang yang salah satunya anak kecil, lagi – lagi mereka satu keluarga. Sudah teridentifikasi oleh Polri karena memang dalam proses pengejaran. Mereka berusaha masuk ke Mapolresta, menerobos dari sisi kiri mobil anggota yang juga akan masuk, namun terhadang oleh penjagaan yang cukup ketat. Mereka dihentikan di depan pintu gerbang dan ketika akan diperiksa langsung terjadi ledakan keras sekali dari pengendara sepeda motor tersebut. Empat orang meninggal, tapi si anak kecil tadi terlempar…masih selamat. Korban dari anggota kepolisian yang jaga tidak ada yang meninggal dunia, hanya terluka. “Yang jelas mereka teroris yang meledakkan bom di depan mapolresta itu adalah bagian dari kelompok yang sama dari kelompoknya Dita,” jelas Kapolri.  (yok)

Foto : Kapolri Jenderl Pol. Tito Karnavian

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *